(See below for the English version.)

Mas Ozi (Muhammad Roziqin) datang ke Jepang dengan penuh semangat. Ia ingin menimba pengalaman, bekerja keras, dan membawa harapan besar untuk masa depan keluarganya di Indonesia. Namun tak pernah terbayang, hidupnya berubah drastis dalam hitungan minggu.

Awalnya, sekitar Oktober 2025, Mas Ozi merasa pegangan tangannya melemah. Ia mengira itu hanya karena lelah bekerja dan bermain badminton di waktu senggang. Namun perlahan, gejala itu berubah semakin parah. Kakinya mulai kesemutan, lalu hilang rasa sama sekali. Meski tubuhnya makin lemah, ia tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja—hingga akhirnya sering terjatuh karena kakinya tak lagi bisa digerakkan.

Memasuki Desember 2025, kondisi Mas Ozi memburuk begitu cepat. Ia hampir tak bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya tangan bagian atas yang masih memiliki sedikit tenaga. Dokter di Kurashiki Hospital kemudian menemukan tumor besar di sumsum tulang belakangnya. Lebih berat lagi, tumor lain juga ditemukan di beberapa tempat: di otak, di tulang belakang bagian tengah hingga bawah. Penyakitnya sudah kompleks, menyebar, dan sulit diobati.

Operasi dilakukan untuk mengambil sebagian tumor dan memastikan jenis penyakitnya. Namun setelah tindakan berat itu, kondisinya tak banyak berubah. Kelumpuhan masih menyelimuti tubuhnya. Dokter akhirnya menyarankan satu hal—Mas Ozi harus segera pulang ke Indonesia agar bisa dirawat bersama keluarga yang dapat mendampinginya setiap hari.

Kini, Mas Ozi terbaring lemah jauh dari rumah. Ia ingin pulang. Ingin bertemu keluarga. Ingin dirawat dalam kehangatan orang-orang tercintanya. Tapi perjalanan itu tidak mudah dan membutuhkan biaya besar, terutama karena ia harus pulang dalam kondisi medis yang rapuh.

Melalui campaign ini, kami mengajak Anda semua untuk ikut membantu memulangkan Mas Ozi ke Indonesia. Setiap dukungan, sekecil apa pun, akan menjadi jembatan agar ia dapat kembali ke pangkuan keluarga.

Mari bersama mengantar Mas Ozi pulang. Agar ia tidak berjuang sendirian.

 

—

[English version)

Muhammad Roziqin came to Japan with great enthusiasm. He wanted to gain experience, work hard, and build a brighter future for his family in Indonesia. But within just a few weeks, his life changed dramatically in ways he never expected.

It began around October 2025, when Roziqin noticed that his grip strength was weakening. He thought it was simply fatigue from work and occasionally playing badminton. But slowly, the symptoms became more severe. His legs started tingling, and then eventually lost all sensation. Even as his body weakened, he forced himself to continue going to work—until he began falling because his legs could no longer support him.

By December 2025, Roziqin’s condition deteriorated rapidly. He could barely move his body. Only the upper part of his arms still had a little strength left. Doctors at Kurashiki Hospital later discovered a large tumor in his spinal cord. Even more concerning, additional tumors were found in several locations: in his brain, in the mid‑thoracic spine, and down to the lower lumbar region. His illness had become complex, widespread, and extremely difficult to treat.

Surgery was performed to remove part of the tumor and to collect tissue samples for a detailed diagnosis. But even after this major procedure, his condition did not improve. Paralysis continued to affect his body. The doctors eventually gave one clear recommendation—Roziqin needed to return to Indonesia as soon as possible so he could be cared for by his family, who could accompany him every day.

Now, Roziqin lies weak and far from home. He wants to return. He wants to see his family. He wants to be treated in the warmth of those who love him. But the journey is not easy and requires significant funds, especially since he must travel in a fragile medical condition.

Through this campaign, we invite everyone to help bring Roziqin back home to Indonesia.
Every contribution, no matter how small, becomes a bridge that brings him closer to his family.

Let’s come together to help Roziqin return home. So that he does not have to fight this battle alone.